Wisuda ke-109 UIN Sunan Gunung Djati Bandung: Kisah Inspiratif Keluarga Petani, Delapan Anak Berjuang Menjadi Sarjana

E
Editor
14 September 2026 5 menit baca 22 views
Wisuda ke-109 UIN Sunan Gunung Djati Bandung: Kisah Inspiratif Keluarga Petani, Delapan Anak Berjuang Menjadi Sarjana

Pada Wisuda ke-109 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, salah satu lulusan yang mendapatkan perhatian dalam momentum wisuda tersebut adalah Muhammad Salman Pauzi, S.H. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,65 dan memperoleh predikat cumlaude

BANDUNG – Wisuda ke-109 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menjadi momentum penuh kebanggaan bagi 1.500 wisudawan dan wisudawati yang secara resmi menyelesaikan pendidikan tinggi. Di antara ribuan lulusan tersebut, terdapat kisah inspiratif Muhammad Salman Fauzi, S.H., yang berhasil meraih predikat cumlaude dengan IPK 3,65.

 

Prosesi wisuda yang dilaksanakan pada tanggal 12 September 2026 di Kampus 1 UIN dipimpin oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Rosihon Anwar. Bagi para lulusan, wisuda bukan hanya menjadi tanda berakhirnya masa studi, tetapi juga menjadi awal untuk mengimplementasikan ilmu dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Di balik keberhasilan Muhammad Salman Fauzi meraih gelar sarjana, tersimpan kisah perjuangan keluarga yang layak menjadi inspirasi. Salman merupakan anak ketujuh dari pasangan Bapak Ayi Didin Nurdin dan Ibu Upu Taryati, sebuah keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai salah satu jalan penting untuk mengubah masa depan anak-anaknya.

 

Menariknya, kedua orang tua Salman bukan berasal dari latar belakang pendidikan tinggi. Mereka hanya sempat menempuh pendidikan hingga tingkat Sekolah Dasar (SD). Namun, keterbatasan pendidikan orang tua tidak menjadi penghalang bagi kedelapan anak mereka untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya.

 

Bapak Ayi Didin Nurdin yang hingga kini berprofesi sebagai petani terus berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, ia berupaya agar seluruh anaknya dapat terus bersekolah dan meraih cita-cita.

 

Perjuangan tersebut perlahan membuahkan hasil. Enam dari delapan anaknya telah berhasil meraih gelar sarjana, yaitu:

  1. Muhammad Burhanudin, S.Sy., M.H.

  2. Muhammad Samsul Arifin, S.E.

  3. Rifki Muhammad Idrus, S.T.

  4. Siti Shofa Nurazizah, S.Pd.

  5. Shofia Auliya, S.Psi.

  6. Muhammad Salman Fauzi, S.H.

Sementara itu, dua anak lainnya masih menempuh pendidikan tinggi. Muhammad Badruzaman saat ini tinggal menyelesaikan tiga semester lagi untuk meraih gelar sarjana, sedangkan Sri Lulu Rahmawati baru memulai perjalanan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi negeri.

 

Dengan demikian, perjuangan keluarga tersebut belum berhenti. Dari delapan anak, enam telah menyandang gelar sarjana dan dua lainnya masih terus berproses menyelesaikan pendidikan tinggi. Bahkan, dalam keluarga tersebut terdapat pula anggota keluarga yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktor di salah satu universitas di Bandung.

 

Pendidikan sebagai Jawaban atas Keterbatasan

Kisah keluarga Ayi Didin Nurdin menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua tidak selalu menentukan sejauh mana pendidikan anak-anaknya. Justru, keterbatasan tersebut menjadi motivasi untuk memberikan kesempatan yang lebih baik kepada generasi berikutnya.

 

Bagi keluarga tersebut, pendidikan bukan sekadar memperoleh ijazah atau gelar akademik. Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang yang diharapkan mampu membuka kesempatan dan meningkatkan kualitas kehidupan anak-anak.

 

Semangat tersebut telah ditanamkan sejak anak-anak masih kecil. Salah satu pesan yang hingga kini menjadi kenangan bagi keluarga disampaikan ketika Muhammad Burhanudin menyelesaikan pendidikan sekolah dasar.

“Dulu ditanya sama Bapak ketika lulus SD, mau cari uang pakai pulpen atau cangkul? Saya menjawab dengan pulpen. Dan akhirnya saya terus melanjutkan sekolah hingga sekarang,” ujar Muhammad Burhanudin.

Pertanyaan sederhana tersebut ternyata menjadi pesan yang sangat membekas. Pulpen menjadi simbol pilihan untuk terus belajar dan menempuh pendidikan, sementara cangkul menggambarkan pilihan untuk langsung bekerja. Meskipun sang ayah berprofesi sebagai petani, ia memberikan ruang kepada anak-anaknya untuk memilih jalan pendidikan.

 

Perjuangan Orang Tua dan Dukungan Keluarga

Keberhasilan anak-anak Ayi Didin Nurdin juga tidak terlepas dari dukungan keluarga besar. Salah satu sosok yang turut berperan dalam perjalanan pendidikan mereka adalah Dr. Nandang Ihwanudin, S.Ag., M.E.Sy.

 

Ia terus memberikan bimbingan, motivasi, dan dukungan agar anak-anak dalam keluarga tersebut tidak berhenti belajar. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun keyakinan bahwa keterbatasan ekonomi maupun latar belakang pendidikan orang tua bukan alasan untuk menyerah dalam mengejar pendidikan.

 

Bagi Ayi Didin Nurdin dan Upu Taryati, keberhasilan anak-anaknya merupakan kebanggaan yang tidak ternilai. Dari keluarga sederhana, mereka berhasil mengantarkan anak-anaknya menuju pendidikan tinggi.

 

Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keberhasilan pendidikan merupakan hasil dari perpaduan antara kemauan anak, pengorbanan orang tua, dukungan keluarga, serta lingkungan yang terus memberikan motivasi.

 

Salman dan Makna Predikat Cumlaude

Di tengah prosesi Wisuda ke-109 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, keberhasilan Muhammad Salman Fauzi, S.H. meraih predikat cumlaude dengan IPK 3,65 menjadi salah satu pencapaian yang membanggakan keluarga.

 

Predikat tersebut bukan hanya menjadi catatan akademik, tetapi juga menjadi simbol dari perjalanan panjang sebuah keluarga dalam memperjuangkan pendidikan anak-anaknya.

 

Bagi Salman, gelar sarjana yang diperoleh merupakan hasil dari proses panjang yang tidak terlepas dari doa dan perjuangan orang tua. Keberhasilannya juga menjadi bagian dari rangkaian keberhasilan kakak-kakaknya yang telah lebih dahulu menyelesaikan pendidikan tinggi.

 

Kisah tersebut memberikan pesan bahwa kesuksesan pendidikan tidak selalu lahir dari keluarga yang memiliki fasilitas berlimpah. Dengan tekad, kerja keras, dukungan keluarga, dan keyakinan terhadap pentingnya pendidikan, keluarga sederhana pun mampu melahirkan generasi berpendidikan.

 

Dari Petani untuk Generasi Berpendidikan

Kisah keluarga Ayi Didin Nurdin layak menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya para orang tua yang memiliki keterbatasan ekonomi maupun pendidikan. Latar belakang sebagai petani dan pendidikan yang hanya sampai sekolah dasar tidak menghalangi seorang ayah untuk memiliki cita-cita besar bagi anak-anaknya.

 

Ia mungkin tidak memiliki gelar akademik yang tinggi, tetapi ia telah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: kesempatan kepada anak-anaknya untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.

 

Kini, perjuangan tersebut mulai terlihat hasilnya. Enam anak telah menjadi sarjana, dua lainnya masih menempuh pendidikan tinggi, dan perjalanan akademik keluarga tersebut terus berlanjut.

 

Wisuda ke-109 UIN Sunan Gunung Djati Bandung akhirnya bukan hanya menjadi cerita tentang 1.500 mahasiswa yang memperoleh gelar akademik. Bagi keluarga Muhammad Salman Fauzi, wisuda tersebut menjadi simbol perjalanan panjang dari sebuah keluarga sederhana yang percaya bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan.

 

Dari tangan seorang petani, lahir anak-anak yang memilih ilmu. Dari pendidikan orang tua yang terbatas, tumbuh generasi yang mampu menempuh pendidikan tinggi. Dan dari sebuah pertanyaan sederhana—“mau cari uang pakai pulpen atau cangkul?”—lahir tekad untuk terus belajar dan menggapai pendidikan setinggi-tingginya.

 

Kisah ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang anak sering kali berdiri di atas pengorbanan orang tua yang tidak selalu terlihat. Gelar yang tersemat di belakang nama seorang sarjana pada hakikatnya juga merupakan penghargaan atas doa, kerja keras, dan perjuangan keluarga yang mengantarkannya sampai ke titik tersebut.

Pejuang Keadilan

● Online

Konsultasi hukum gratis bersama tim advokat kami.