Jurnal

Khutbah Jumat: Iman yang Utuh, Persatuan dalam Keberagaman, dan Menjaga Ukhuwah

E
Editor
21 August 2026 5 menit baca 6 views

Khatib berwasiat dengan wasiat taqwa, dan menyampaiak 3 poin penting, yaitu: Pertama, sempurnakan iman kepada Allah dan seluruh rasul-Nya. Kedua, jadikan iman sebagai akhlak. Ketiga, rawat persatuan, jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memutus ukhuwah.

Oleh: Dr. Nandang Ihwanudin, S.Ag., M.E.Sy. 

---

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رُسُلَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ، وَجَعَلَ الْإِيمَانَ سَبِيلًا لِلنَّجَاةِ، وَجَعَلَ الْأُخُوَّةَ وَالْوَحْدَةَ سَبِيلًا لِقُوَّةِ الْأُمَّةِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

 

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam bagaimana kita menjaga kejujuran, persaudaraan, persatuan, keadilan, dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

 

Pada hari Jumat yang mulia ini, marilah kita renungkan firman Allah SWT dalam QS. al-Nisā’ ayat 150–152:

 

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا ۝ أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا ۝ وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ أُولَٰئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾

صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمُ.

 

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ayat ini berbicara tentang keutuhan iman.

Allah SWT mencela orang yang memilih-milih dalam keimanan. Mereka mengatakan beriman kepada sebagian rasul tetapi mengingkari sebagian yang lain.

 

Allah berfirman:

﴿وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا﴾

Mereka ingin mengambil jalan tengah antara iman dan kufur menurut hawa nafsunya.

 

Tafsir al-Sa‘dī menjelaskan:

«هنا قسمان قد وضحا لكل أحد: مؤمن بالله وبرسله كلهم وكتبه، وكافر بذلك كله. وبقي قسم ثالث: وهو الذي يزعم أنه يؤمن ببعض الرسل دون بعض، وأن هذا سبيل ينجيه من عذاب الله، إن هذا إلا مجرد أماني»

 

Ada orang yang beriman kepada Allah, seluruh rasul dan kitab-kitab-Nya. Ada pula yang mengingkari semuanya. Kemudian ada kelompok yang mengaku beriman kepada sebagian rasul tetapi mengingkari sebagian yang lain. Menurut al-Sa‘dī, anggapan bahwa jalan seperti itu dapat menyelamatkan seseorang hanyalah angan-angan.

 

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pesan pertama ayat ini adalah iman tidak boleh dibangun berdasarkan selera pribadi.

 

Seorang Muslim tidak boleh mengambil ajaran agama hanya yang sesuai dengan kepentingannya, sementara yang tidak sesuai kemudian ditinggalkan.

 

Kita tidak boleh berkata:

“Yang ini saya suka, saya ambil. Yang itu berat bagi saya, saya tinggalkan.”

Islam mengajarkan kepasrahan kepada Allah secara utuh. Karena itu, iman harus melahirkan ketaatan, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tafsir al-Sa‘dī kemudian memberikan prinsip yang sangat penting:

«فإن من تولى الله حقيقة؛ تولى جميع رسله؛ لأن ذلك من تمام توليه، ومن عادى أحدًا من رسله؛ فقد عادى الله وعادى جميع رسله»

Barang siapa benar-benar mencintai dan menaati Allah, maka ia juga menerima seluruh rasul-Nya. Sebab, menerima seluruh rasul merupakan konsekuensi dari iman kepada Allah.

 

Dari sini kita belajar sebuah prinsip:

Keutuhan iman harus melahirkan keutuhan akhlak. Tidak cukup seseorang mengatakan: “Saya beriman.” Tetapi iman itu harus terlihat dalam perilakunya. Jika beriman kepada Allah, maka lisannya harus terjaga. Jika beriman kepada Allah, maka tangannya tidak boleh menyakiti. Jika beriman kepada Allah, maka hartanya tidak boleh diperoleh dengan cara yang haram. Jika beriman kepada Allah, maka ia tidak boleh menipu dalam perdagangan. Jika beriman kepada Allah, maka ia tidak boleh menyebarkan fitnah. Jika beriman kepada Allah, maka ia harus menjaga amanah. Dan jika beriman kepada Allah, maka ia harus menjadi sumber rahmat dan kedamaian bagi lingkungan sekitarnya.

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita hidup di Indonesia, negeri yang besar dengan masyarakat yang sangat beragam. Kita berbeda suku, bahasa, budaya, organisasi, pilihan pendidikan, profesi, dan dalam sebagian persoalan keagamaan. Di dalam kehidupan umat Islam sendiri terdapat perbedaan mazhab, tradisi, metode dakwah, dan pilihan organisasi.

Perbedaan adalah kenyataan sosial. Namun, perbedaan jangan sampai berubah menjadi permusuhan. Jangan sampai perbedaan fikih menjadi alasan untuk saling mencaci. Jangan sampai perbedaan organisasi menjadi alasan memutus silaturahmi. Jangan sampai perbedaan pilihan politik membuat kita kehilangan persaudaraan. Dan jangan sampai perbedaan pandangan membuat kita merasa paling benar sementara merendahkan orang lain.

 

Allah SWT berfirman:

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾

“Berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”

Indonesia membutuhkan umat Islam yang kuat akidahnya, luas ilmunya, lembut akhlaknya, dan dewasa dalam menghadapi perbedaan.

 

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ada satu persoalan penting pada zaman kita, yaitu perbedaan di ruang digital. Hari ini seseorang dapat menulis satu kalimat dari rumahnya, tetapi dalam beberapa menit dapat dibaca ribuan bahkan jutaan orang. oleh karena itu, sebelum mengirim pesan, sebelum membagikan video, sebelum meneruskan berita, sebelum memberikan komentar, mari kita bertanya:

Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini adil? Apakah ini akan memperbaiki keadaan atau justru memperkeruh suasana? 

Jangan sampai jari-jari kita menjadi sebab dosa. Jangan sampai WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, atau media sosial lainnya menjadi sarana menyebarkan fitnah, hoaks, penghinaan, ujaran kebencian, dan permusuhan.

 

Allah SWT berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾

Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti.

Maka, tabayyun adalah bagian dari ketakwaan.

 

Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ayat 152 memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman:

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ أُولَٰئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ﴾

Dan Tafsir al-Sa‘dī menjelaskan:

«وهذا يتضمن الإيمان بكل ما أخبر الله به عن نفسه وبكل ما جاءت به الرسل من الأخبار والأحكام، ولم يفرقوا بين أحد منهم، بل آمنوا بهم كلهم؛ فهذا الإيمان الحقيقي واليقين المبني على البرهان.»

Iman yang benar bukan hanya pengakuan lisan. Iman adalah keyakinan yang dibangun di atas ilmu dan bukti, lalu diwujudkan dalam amal.

 

Al-Sa‘dī melanjutkan:

«أُولَئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ؛ أي: جزاء إيمانهم وما ترتب عليه من عمل صالح وقول حسن وخلق جميل؛ كل على حسب حاله»

Allah akan memberikan balasan atas iman mereka dan atas apa yang lahir dari iman tersebut: amal saleh, perkataan yang baik, dan akhlak yang indah.

 

Maka marilah kita jadikan iman sebagai energi untuk memperbaiki diri, keluarga, lingkungan, dan bangsa.

Jadilah Muslim yang kuat dalam akidah, benar dalam ibadah, jujur dalam muamalah, santun dalam perbedaan, dan bermanfaat bagi sesama.

Semoga tempat ini menjadi pusat ibadah, ilmu, persaudaraan, dan kemaslahatan masyarakat.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَأَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita simpulkan pesan khutbah hari ini dalam tiga hal.

Pertama, sempurnakan iman kepada Allah dan seluruh rasul-Nya. Jangan menjadikan agama sebagai sesuatu yang dipilih berdasarkan hawa nafsu.

Kedua, jadikan iman sebagai akhlak. Iman harus melahirkan kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan, dan perkataan yang baik.

Ketiga, rawat persatuan. Berbeda dalam persoalan yang memang memungkinkan perbedaan, tetapi jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memutus ukhuwah.

 

Tafsir al-Sa‘dī menutup ayat ini dengan firman Allah:

وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Dan beliau menjelaskan:

«يَغْفِرُ السَّيِّئَاتِ، وَيَتَقَبَّلُ الْحَسَنَاتِ»

Allah mengampuni keburukan dan menerima kebaikan.

Maka jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Mari kita perbaiki diri, perbaiki keluarga, perbaiki lingkungan, dan berikan kontribusi terbaik untuk Indonesia.

DOA

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ بِكَ وَبِرُسُلِكَ، وَمِنَ الْمُتَمَسِّكِينَ بِكِتَابِكَ، وَمِنَ الْعَامِلِينَ بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْمَحَبَّةِ وَالْأُخُوَّةِ وَالْوَحْدَةِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا، وَاحْفَظْ أَهْلَهَا، وَاحْفَظْهَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْعَدْلَ وَالْحِكْمَةَ وَالْأَمَانَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِخَيْرِ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ أَهْلَ بُمِي بَانْيِلِيوْكَانَ، وَبَارِكْ فِي أُسَرِنَا وَأَوْلَادِنَا، وَاجْعَلْ مَسْجِدَ الْحَسَنِ ٢ مَنْبَعًا لِلْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ وَالْأُخُوَّةِ وَالْمَنْفَعَةِ لِلْمُجْتَمَعِ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا مُؤْمِنَةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً، وَأَخْلَاقًا حَسَنَةً.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Pejuang Keadilan

● Online

Konsultasi hukum gratis bersama tim advokat kami.