Tips Hukum

Khutbah Idul Fitri : IMPLEMENTASI TARBIYAH RAMADAHAN BERKELANJUTAN MELALUI INTERNALISASI PESAN-PEASAN SURAT AL-GHASYIYYAH

E
Editor
18 July 2026 12 menit baca 18 views
Khutbah Idul Fitri : IMPLEMENTASI TARBIYAH RAMADAHAN BERKELANJUTAN MELALUI INTERNALISASI PESAN-PEASAN SURAT AL-GHASYIYYAH

Hikmah dan buah ibadah saum adalah mencetak manusia/hamba bertakwa (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ). Semoga kita termasuk kelompok orang bertakwa tersbut. Amin YRA. Yang harus kita garis bawahi adalah, apakah layak kita mendapat predikat muttaqin –yang kesudahan di akhiratnya surga- orang berhasil meraih derajat takwa? Sudahkan kita meraih derajat hakikat manusia sempurna, bahagia dunia dan sejahtera akhirat melalui Tarbiyah dan Riyadhah Ramdhan?

 

IMPLEMENTASI TARBIYAH RAMADAHAN BERKELANJUTAN MELALUI INTERNALISASI PESAN-PEASAN SURAT AL-GHASYIYYAH[1]

Oleh: Dr. Nandang Ihwanudin, S.Ag.,M.E.Sy.2

 

Assalamu ‘alaikum wrb.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أما بعد،

 فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ،

 قَالَ اللَّهِ:  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

Hadirin ikhwatu iman rahimakumullah

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ /Gema takbir, tahmid dan tahlil berkumanding di seantero bumi di seluruh penjuru dunia. Allah maha Besar, Allah Maha Agung, Ia Maha segalanya. Tiada Tuhan kecuali Dia, Allah Maha Besar, oleh karenanya, Segala puji dipersembahkan hanya kepada-Nya, karena puji hanya milik-Nya.

 

Oleh karena itu mari kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat-Nya. Zat yang telah memberikan kekuatan kepada kita menyelesaikan ibadah Ramadhan dengan aneka sajiannya,

Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan kami pun bersaksi bahwa baginda Muhammad adalah utusan-Nya.

 

Shalawat dan salam semoga dicurahlimpahkan ke hadapan baginda mulia, nabi yang agung, rasul teladan, yakni Habibana wa maulana Muhammad, juga kepada keluarga, sahabat dan seluruh pengikut.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ

Khatib berwasiat, mari kita tingkatkan kualitas dan kuantitas ketakwaan kita kepada Allah swt. Zat yang telah mensyariatkan ibadah puasa sebulan penuh lamanya, di bulan Ramadan, bulan penuh berkah, kasih sayang dan ampunan, bulan diwajibkannya ibadah puasa, dibukakan pintu langit dan surga, ditutup pintu neraka, dan setan pun dibelenggu. Bulan yang didalamnya ada lailatul qadar, malam yang lebih baik daripada 1000 bulan-semoga kita memperoleh anugrah terindah tersebut- ("أتاكم رمضان شهر مبارك فرض الله عز وجل عليكم صيامه تفتح فيه أبواب السماء وتغلق فيه أبواب الجحيم وتغل فيه مردة الشياطين لله فيه ليلة خير من ألف شهر من حرم خيرها فقد حرم"، (رواه النسائي وصححه الألباني).). Bulan Ramdahan, bulan turunnya al-Quran, ia sebagai hidayah/pedoman hidup, yang ada jaminan bahagia dunia dan sejahtera akhirat manakala kita berpegang teguh kepadanya. Ia petunjuk dan rincian tentang petunjuk tersebut, serta pemisah/pembeda antara hak dan bathil, benar dan salah, serta baik dan buruk. (شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ).

 

Bulan suci kini telah pergi, semoga tahun depan kita berjumpa lagi…

 

Hadirin keluarga Besar Nabi Muhammad saw rahimakumullah

Hikmah dan buah ibadah saum adalah mencetak manusia/hamba bertakwa (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ). Semoga kita termasuk kelompok orang bertakwa tersbut. Amin YRA. Yang harus kita garis bawahi adalah, apakah layak kita mendapat predikat muttaqin –yang kesudahan di akhiratnya surga- orang berhasil meraih derajat takwa? Sudahkan kita meraih derajat hakikat manusia sempurna, bahagia dunia dan sejahtera akhirat melalui Tarbiyah dan Riyadhah Ramdhan?

 

Setidaknya, untuk menjawab pertaanyaan yang sangat mendasar ini, khatib mengajak merujuk dan merenungkan pesan-pesan QS al-Ghasyiyah, salah satu surat yang dibaca Rasulullah dalam shalat `Id. Dari surat al-Ghasyiyah ini, setidaknya kita dapat memetik lima (5) pelajaran penting untuk memelihara ketakwaan kita, menuju kemenangan yang abadi.

 

Pertama: Kita dapat merujuk pada ayat ke 1-7, Allah swt berfirman:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

هَلۡ اَتٰٮكَ حَدِيۡثُ الۡغَاشِيَةِؕ

1. Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)?

وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ خَاشِعَةٌ

2. Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina,

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ

3. (karena) bekerja keras lagi kepayahan,

تَصۡلٰى نَارًا حَامِيَةً

4. mereka memasuki api yang sangat panas (neraka),

تُسۡقٰى مِنۡ عَيۡنٍ اٰنِيَةٍؕ

5. diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.

لَـيۡسَ لَهُمۡ طَعَامٌ اِلَّا مِنۡ ضَرِيۡعٍۙ

6. Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri,

لَّا يُسۡمِنُ وَلَا يُغۡنِىۡ مِنۡ جُوۡعٍؕ

7. Yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.

 

 

Dari ayat-ayat tersebut kita dapat memetik pelajaran dan hikmah dengan mengingat betapa dahsyat dan mengerikannya hari kiamat, serta balasan yang menakutkan bagi orang-orang yang mengingkari Allah, maka, semoga kita terhindar dari sengatan api neraka. Tentunya degan menjaga iman-islam dan ihsan kita.

 

Rasa takut dalam kalbu, dapat menghantarkan ampunan Allah, seksligus hadirnya belas kasih-Nya. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. An-Nazi’at: 40-41:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ - فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ

 

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).

Juga sejalan dengan firman Allah dalam QS Qaf ayat 31-33:

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ (33)

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.”

 

Dari ayat tersebut dapat diambi ibrah bahwa orang yang takut akan Tuhannya, mereka akan dibebaskan dari api neraka, juga akan didekatkan dan dimasukkan ke dalam surga-Nya.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ

Hadirin Perindu kedamaian dan kesejahteraan rahimakumullah.

Kedua, merujuk Surat al-Ghasyiyah ayat ke 8-16:

وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاعِمَةٌ

8. Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri,

لِّسَعۡيِهَا رَاضِيَةٌ

9. merasa senang karena usahanya (sendiri),

فِىۡ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ

10. (mereka) dalam surga yang tinggi,

لَّا تَسۡمَعُ فِيۡهَا لَاغِيَةً

11. di sana (kamu) tidak mendengar perkataan yang tidak berguna.

فِيۡهَا عَيۡنٌ جَارِيَةٌ‌

12. Di sana ada mata air yang mengalir.

فِيۡهَا سُرُرٌ مَّرۡفُوۡعَةٌ

13. Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan,

وَّاَكۡوَابٌ مَّوۡضُوۡعَةٌ

14. dan gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya),

وَّنَمَارِقُ مَصۡفُوۡفَةٌ

15. dan bantal-bantal sandaran yang tersusun,

وَّزَرَابِىُّ مَبۡثُوۡثَةٌ

16. dan permadani-permadani yang terhampar.

 

Hadiran yang berbahagia!

 

Dengan memerhatikan isi kandungan ayat tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa, agar kita dapat memelihara keagungan Ramadhan pada bulan-bulan berikutnya, maka kiata harus beramal maksimal, berkarya, serta beraktivitas yang sejalan dengan syariat Allah. Amaliyah yang dilandasi keridhaan kepada-Nya hingga Ia-pun ridha kepada kita. Sebagaimana firman Allah dalam QS al-Fajr ayat 27-30:


يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ۝٢٧

Wahai jiwa yang tenang,

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ ۝٢٨

kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ ۝٢٩

Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ۝٣٠

dan masuklah ke dalam surga-Ku!

 

Hadirin sidang riaya yang berbahagia!

 

Semoga kita termasuk hamba-hambanya yang dapat memaksimalkan nasf al-muthmainnah kita, sehingga kita dapat undangan menuju istana Allah Yanga maha Penyayang, dengan penuh kerelaan jiwa, sehingga kita dicurahi limpahan keridhaan-Nya.

 

Amal perbuatan yang didasari kerelaan hati ini, sejalan dengan hadits dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً

“Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah  sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya” (HR Muslim no. 34).



اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ

 

Hadirin minal a`idin wal faizin, rahimakumullah.

Ketiga, merujuk Surat al-Ghasyiyyah ayat ke 17-20:

اَفَلَا يَنۡظُرُوۡنَ اِلَى الۡاِ بِلِ كَيۡفَ خُلِقَتۡ

17. Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?

وَاِلَى السَّمَآءِ كَيۡفَ رُفِعَتۡ

18. dan langit, bagaimana ditinggikan?

وَاِلَى الۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ

19. Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?

وَاِلَى الۡاَرۡضِ كَيۡفَ سُطِحَتۡ

20. Dan bumi bagaimana dihamparkan?

 

 

Hadirin ikhwatu iman rahimakumullah, dari empat ayat di atas, untuk mempertahankan takwa, kita mesti meningkatkan kualitas dan kuantitas me-nazhar, kulaitas memaksimalkan potensi nalar atau pikir. Menelaah, mengamati, meneliti dan mentadabburi ayat-ayat kauniyyah Allah swt. nazhar/merefleksi, berfilsafat guna memaksimalkan anugrah Allah agar dapat memetik nilai manfaat lebih (addid values), sehingga dapat menggali SDA guna memenui hajat umat manusia. Melaui nazhar, SDA semakin memeberikan manfaat, al-istikhraj/produksi dapat dimaksimalkan, disamping dapat menambah kesadaran jiwa atas kehadiran Sang Pencipta. Sebgaiman firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 191:

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

 

Hal ini sejalan pula dengan pepatah. ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه/“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ

Hadirin hadaaniyallaah wa iyyakum, rahimakumullah.

Keempat, merujuk Surat al-Ghasyiyah ayat ke 21-24:

فَذَكِّرۡ اِنَّمَاۤ اَنۡتَ مُذَكِّرٌ

21. Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.

لَـسۡتَ عَلَيۡهِمۡ بِمُصَۜيۡطِرٍۙ

22. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

اِلَّا مَنۡ تَوَلّٰى وَكَفَرَۙ

23. kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir,

فَيُعَذِّبُهُ اللّٰهُ الۡعَذَابَ الۡاَكۡبَرَؕ

24. maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar.

 

 

Hadirin Perindu surge yang berhagia!

 

Dari QS al-Ghasyiayah 21-24, kita dapat ambil hikmah, bahwa, agar kita dapat menginternalisasikan riydhah Ramadhan, maka kita harus mau dan mapu menjadi agen dakwah, pembawa nilai-nilai kemajuan dan perubahan. Kita adalah juru dakwah, marketing bahagia dunia sejahtera akhirat. Kita adalah penerus misi risalah sebagai مُذَكِّرٌ/pemberi peringatan. Agar Islam mewujud rahmatan lil ‘alamin dibingkai moderasi beragama, sehingga bhineka tunggal ika terawat dengan sempurna. Kita memiliki amanah amar ma’ruf nahi munkar, dan yang mesti digarisbawahi, kita sama sekali bukan penguasa/ لَـسۡتَ عَلَيۡهِمۡ بِمُصَۜيۡطِرٍ, melainkan sebagai khlaifatullah, pengemban amanah Allah yang ukhrijat linnas.

 

Hadirin yang sangat mengharapkan ampunan Allah Yang Maha pengampun, hati-hatilah, yang harus benar-benar dijaga ketika menjadi seorang da’i/da’iyah adalah upaya untuk membersamai apa yang ditaushiyahkan dengan apa yang dilakukan. Karena, bila tidak, Allah swt mengingatkan dengan keras dalam firman-Nya, QS. Ash-Shaff ayat ke 2-3:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ - كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

 

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ

 

Hadirin Perindu kedamaian dan kesejahteraan, rahimakumullah.

Kelima, merujuk Surat al-Ghasyiyah ayat ke 25-26:

اِنَّ اِلَيۡنَاۤ اِيَابَهُمۡۙ‏

25. Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali,

ثُمَّ اِنَّ عَلَيۡنَا حِسَابَهُمْ

26. kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka

.

Dari kedua ayat penutup Surat al-Ghasyiyah ini, kita dapat mengambil mutiara hikmah, agar kita dapat istiqamah memetik hasil gemblengan kawah candradimuka Ramadhan, maka kita harrus memiliki kesadan yang mendalam bahwa kita akan kembali. Dunia tempat menanam, akhirat tmpat menuai. Ingat bahwa tempat kembali kita adalah Allah. Tidak semua yang kembali diterima, yang diterima hanyalah yang lulus skrining hisab-Nya, yang akan dapat sambutan dari Tuhan Yang Maha Penyayang/al-Rahman hanyalah hamba-hamba-Nya yang kembali dengan hati yang selamat. Di dalam Q.S. As-Syu’ara: 88-89 Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ  إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Ingatlah) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan (membawa) hati yang salim (selamat).”

 

Ayat ini dan ayat-ayat semakna lainnya dianggap sebagai dalil bahwa hati manusia itu berbeda-beda dan dapat berubah-ubah. Selain itu, juga banyak hadis yang mendukung kesimpulan ini. Seperti hadis Muttafaq alaih yang berbicara tentang hati yang menjadi penentu sekaligus pengatur seluruh tubuh manusia. (Shahih Bukhari No. 52 dan Shahih Muslim No. 1599).

 

 

Poin penting lainnya adalah, kita mesti berlomba-lomba untuk memiliki hati yang selamat ini, sekaligus kita berusaha sampai penghujung kemampuan untuk mendapatkan hisab yang mudah. Allah swt berfirman:

فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

Artinya: Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,

 

Oleh karena itu, Sebuah doa yang patut kita hafal dan amalkan demi meraih hisab yang mudah di akhirat kelak. adalah:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى بَعْضِ صَلاَتِهِ « اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا ». فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ قَالَ « أَنْ يَنْظُرَ فِى كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ تَشُوكُهُ »

Dari Aisyah, ia berkata, saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca, “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).” Ketika beliau berpaling saya bekata, “Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau bersabda, “Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya. (HR. Ahmad 6/48. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ

 

Lima poin yang dapat dipetik dari QS al-Ghasyiyah, satu dari empat surat yang biasa dibaca Rasulullah saw dala salat ‘Id, adalah: 1) ingat hari berbangkit disertai pemahaman akan betapa dahsyat dan beratnya azab Allah; 2) Mengingat, betapa indahnya balasan bagi orang-orang yang beramal dengan penuh kerelaan hati, mereka ridha kapada Allah dan Allah-pun ridha pada mereka; 3) Dayagunakan nalar/berkontampalsilah/berpikir dan bertadabbur-lah; 4) Mengingat dan mengamalkan misi risalah sebagai pemberi peringatan, bukan sebagai penguasa; dan ke 5) Ingat bahwa kita akan kembali, akan dihisab, dan kita akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan. Dengan menyadari dan mawas diri terhadap 5 pesan tersebut, in sya Allah kita akan dapat mempertahan derajat muttaqin/orang bertakwa sebagai buah amaliah Ramadhan kita, yang pada gilirannya, surga merindukan kita. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ

Hamba Allah, Saudaraku seiman, sebangsa, setanah air dan saudara sesama ummat manusia.

Allah swt berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ

 

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman, berpuasa, qiyamullail, dls.) Dan dia ingat nama Tuhannya (dengan takbir, tahmid, tahlil/ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ, dan kalimat thayyibah lainnya), lalu dia shalat. Salat wajib, shalat sunnah, termasuk shalat id al-fithri ini).

 

Saudaraku, kebersihan diri kita, iman-islam-ihsan kita, semoga melahirkan kedamaian, kesejahteraan, dan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Bahkan, semoga kesucian diri kita, iman-islam-ihsan kita, dapat memancar, menyinari dan melahirkan kedamaian, kesejahteraan, dan keselamatan keluarga kita, bangsa dan Negara kita, serta seluruh umat manusia di mana pun mereka berada. Mari kokohkan ukhuwah/persaudaraan yang diikat dengan hubungan darah, hubungan sebangsa dan setanah air, hubungan yang erat diikat 2 kalimat syahadat, serta dipersaudarakan karena kita, berasal dari ayah dan ibu yang sama, yakni Adam dan Hawa. Mari kita jalin silaturrahim, semarkkan dan kuatkan ukuwah.

 

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ اللهُ

Hamba Allah yang terbebas dari dosa dan kesalahan.

Semoga kita oleh Allah YMPP digabungkan dengan kelompok orang-orang yang meraih takwa dan surga… menjadi manusia sempurna melalui tarbiyah Ramadhan yang berkelanjutan. Kita berlindung kepada Allah termasuk kategori orang yang disabdakan junjungan kita: «رغم أنف رجل ذكرت عنده فلم يصل علي، ورغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يُغفر له، ورغم أنف رجل أدرك عنده أبواه الكبر فلم يدخلاه الجنة"، (رواه الترمذي وصححه الألباني).. Semoga, sekali lagi, dengan Ramdhan ini, dosa kita terhapus semua, tak tersisa. Amin YRA.

 

Demikian yang khatib sampaikan, di akhir khutbah ini, mari kita berunajat kepada Allah swt: A’udzu billahi minasy-syaithanirrajim…

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ،


اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ،

 

Ya Allah Zat Yang Maha Pengampun, ampunilah  dosa dan kesalahan kami, dosa dan kesalahan kedua orang tua kami, guru-guru kami, orang-orang yang berjasa kepada kami, orang-orang yang mencintai kami dan orang-orang yang kami cintai. Sungguh Engkau Maha dekat/mengawasi, Maha Penerima Tobat.

اللهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ،

 

Ya Allah Yang Maha Penyayang, Jadikanlah hari Raya kami ini hari kebahagiaan, keselamatan, kegembiraan; Tambahkan pada kami ketentraman dan kesatupaduan; Anugrhkan kepada kami riang gembira, suka cita dan cinta serta kasih sayang; Ya Rahman, Janjikanlah untuk kami kebaikan, kemurahan, kemengangan dan keberkahan; Ya Salam, Jadikan saling mencintai adalah jalan kami; Ya Mu`min Yaa Muhaimain, Bahagiakan kamai dan bangsa serta Negara kami; muliakan kamim dan keluarga kmai, jaga tempat tinggal kami dan keluarga kami; Muliakan kami dengan kemuliaan-Mu, baik di dunia ini, terlebih di akhirat kelak.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

 

Ya Allah ya Tuhan kami, terimalah shalat kami, puasa kami, qiyamullil kami, tilawah kami, silaturahim kami, ta’lim dan ta’allum kami, I’tikaf kami, zakat-infak-sedekah kami, kekhusukan kami, sempurnakan yang kurang dari kami.

Amin Ya Rabbal ‘alamin

Saudaraku, Berbahagialah, bersyukurlah, Hari Raya/Id yang baik; Semoga Kita dlam kebaikan selama-lamanya. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ

عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Taqabbalalh minna waminkum; wa ahallallah lakum

Wilujeng boboran saum

Wassalamu ‘alaikum wrb.

 



[1] Disampakan di Lapangan Golf Siliwangi, Panitia Idul Fitri 1445 H DKM Jihadul Akbar, Lengkong.

2 Dosen Prodi Magister Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Unisba, Pengurus MUI Kota Bandung Biddiklat

Pejuang Keadilan

● Online

Konsultasi hukum gratis bersama tim advokat kami.